Kisah Tarsih Pemilik Warteg di Jakarta Selama 20 Tahun : Okezone Economy

JAKARTA – Sebuah Komunitas Warteg Nusantara (Kowantara) membantu para penjual bertahan di situasi yang tak menentu saat ini.

Dilansir BBC di Jakarta, Rabu (2/8/2023), Ketua Komunitas Warteg Nusantara, Mukroni, mengaku pada awal mulanya Kowantara dibentuk dengan tujuan dilahturahmi, agar para pemilik warteg dapat saling kenal dan berkumpul bersama. Namun, kini fungsinya sudah berkembang menjadi lebih luas.

 BACA JUGA:

“Jadi silaturahmi istilahnya, sebagi bentuk persaudaraan antar-para pegiat warteg. Yang kedua, ya kalau bisa kita menggerakkan ekonomi, kita nanti akan mendirikan beberapa koperasi,“ kata Mukroni.

Koperasi yang dimaksud Mukroni juga diberi nama Kowantara, yakni Koperasi Warteg Nusantara.

 BACA JUGA:

Koperasi-koperasi tersebut digunakan oleh komunitas itu untuk membeli bahan-bahan dasar makanan dalam jumlah besar dan disalurkan kepada para anggota.

“Itu ide kita, gagasan kita untuk mewadahi agar mereka [para pemilik warteg] dapat memperoleh harga bahan sembako, bahan pokok untuk kebutuhan warteg dengan harga yang cukup murah dan berkualitas,“ ujarnya.

Baca Juga: Sah! Pertamina dan Petronas Tandatangani Perjanjian Jual Beli dengan Shell


Follow Berita Okezone di Google News


Koperasi itu ternyata menjadi sangat berguna dalam mengatasi lonjakan harga bahan pangan, terutama minyak goreng yang sempat mengalami kelangkaan di pasar. Ada pula bahan makanan lain seperti beras dan telur yang disediakan oleh koperasi.

“Jadi kalau kita kompak, kalau kita bersama solid, kita akan bisa mendapatkan harga murah, barangnya berkualitas,“ lanjutnya.

Adapun selain menyediakan bahan makanan dengan harga terjangkau, Kowantara juga mengadakan pelatihan-pelatihan untuk anggotanya yang ingin meningkatkan skill mereka di bidang kuliner, baik itu dari segi kesehatan ataupun modifikasi menu.

Baca Juga  Selain Vaksinasi, Berikut 5 Cara Mencegah Penularan Hepatitis : Okezone health

“Kita pernah kerjasama itu dengan Unilever, misalnya dengan bahan baku yang murah tapi tidak mengandung bahan kimia,” bebernya.

Jadi masih ada keterkaitan dengan makanan. Dari segi halal, kesehatan, kebersihan, ya terus pembiayaan, akses. Misalnya ada bank yang mau menyalurkan PUR, monggo silakan daftar.

Lebih lanjut, Mukroni mengatakan bahwa Kowantara juga membantu legalitas usaha para anggotanya dengan dalam pembuatan Nomor Induk Berusaha (NIB).

 BACA JUGA:

Dengan memiliki NIB, sambungnya, para pemilik warteg dapat dipermudah dalam mengakses layanan perbankan dan terdaftar untuk menerima bantuan pemerintah.

Program-program tersebut direncanakan bersama pada pertemuan para anggota yang digelar sekali setiap bulan di wilayah masing-masing. Sementara, untuk acara pertemuan para anggota secara nasional, biasanya diadakan setahun sekali.

“Itu per Kanwil biasanya. Misalnya di Bogor, terus nanti kan jaraknya lumayan, makanya kita datangi. Ayo di Bogor adakan Kopdar, nanti kita bisa sambil arisan,” ucapnya.

Selain itu, ada Tarsih, yang juga menjabat sebagai sekretaris Kowantara, mengatakan bahwa komunitas itu seringkali menjadi wadah penyaluran aspirasi para pengusaha warteg.

“Kalau ada peraturan-peraturan pemerintah yang kayaknya merugikan. Kemarin waktu Warteg mau dikenakan pajak, berat banget karena yang makan (di warteg) bukan orang-orang yang banyak duit,” kata Tarsih.

Tarsih yang juga pemilik warteg sudah tinggal dan mengelola warungnya di Jakarta selama hampir 20 tahun.

Dia menyebut sudah mulai membantu orang tuanya melayani para konsumen lapar di warteg mereka di Jakarta sejak ia duduk di bangku kelas empat SD.

“Saya belajar nyentong nasi dan melayani itu dari SD kelas 4. Setiap kali liburna saya dibawa ke Jakarta. Waktu itu di daerah Budi Luhur, di daerah petukangan selatan itu,” ungkap Tarsih yang kini berusia 48 tahun.

Baca Juga  Kehangatan Ganjar saat Menginap di Rumah Warga, Makan Malam hingga Nyanyi Bareng : Okezone News

 BACA JUGA:

Dia mengaku masih ingat betul pengalamannya berbelanja di pasar pagi-pagi seorang diri saat ia SMA. Para penjual langsung meneriakinya dengan penuh semangat, menawarkan berbagai barang jualan mereka, mulai dari tahu hingga unggas.

“Kalau dulu enak, bahan-bahan makanan semua murah dan alami. Sekarang sudah serba mahal dan instan,” katanya.

Kemudian, dia mengungkapkan kalau mengatakan inflasi yang kini tak bisa diprediksi semakin ‘mencekik‘ para pengusaha warteg.

Hal itu karena rata-rata harga lauk di warteg naik hampir dua kali lipat jika dibandingkan dengan 10 tahun lalu.

Adapun dampaknya, ketika dulu pengusaha warteg bisa mendapatkan untung paling tidak 40% dari hasil penjualan, kini pendapatan menjadi 20%. Itu pun jika sang pemilik sedang beruntung.

“Saya kerja dengan suami saya di warung dengan jam kerja warteg dari jam 4 pagi sampai dengan jam 10 malam, itu nggak sebanding dengan tenaga yang keluar,” bebernya.

Meski begitu, ia mengaku sekitar 80-90% dari keluarga besarnya yang berasal dari Tegal masih giat menekuni usaha warteg.

“Mereka pada buka warteg. Keponakan-keponakan saya, ada yang angkatan darat, ada yang angkatan laut, tapi tetap wartegnya itu enggak ditinggal,” ungkap Tarsih.

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis Okezone.com tidak terlibat dalam materi konten ini.

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *